Aku & Rembulan

Aku dan Rembulan

Rostika Hardianti

Semesta berkisah tentang perjalanan rindu manusia. Menjelajahi hati yang memendam rasa dan tenggelam dalam lautan cinta. Meski cinta bukanlah keabadian, tetapi memilikinya adalah suatu kebahagiaan tersendiri yang berbeda. Berbicara cinta, ialah rasa yang selalu disebut. Nama yang sama namun percayalah kepada setiap hati, bahwa rasa setiap cinta berbeda. Makna yang beralur indah tak semuanya memiliki cerita indah. Mudah saja alur berbelok sesuai penempatan takdirnya.

Malam yang begitu dingin menghantarkan kegelisahan di sudut jendela. Seorang gadis mendekat di bibir jendela sambil menatap langit malam yang indah. Matanya sayu. Wajahnya pias diterpa lampu yang rdup ditambah sinar rembulan yang malu-malu menampakkan sinarnya.

“Mendekatlah rembulan, ajak aku menjelajahi angkasa dan kulihat dunia dengan leluasa. Agar aku meninggalkan kenangan masa lalu dan tak berharap lagi bertemu dengannya kembali.” Desah seorang gadis lugu di bingkai jendela. Memeluk lutut.

Tidak banyak yang bisa diharapkan dari pertemuannya dengan seseorang yang dinanti. Dua tahun lamanya mereka berdua harus terpisah. Rindu membawa keduanya mengaduh pada alam. Setiap kali rindu datang, tidak ada komunikasi atara keduanya. Seseorang yang jauh disana entah mengapa sulit dihubungi. Menggelesihkan hati selama dua tahun lamanya. Tidak tahu kapan pergi dan kembalinya. Hati gadis di bibir jendela itu merintih, sesak.

Hingga jatuh tertidur. Ditemani tampias sinar rembulan yang sendu.

Esok harinya, pengantar pos mendatangi rumahnya saat hari menjelang siang.

“Permisi…”

“Ya?”

“Ada kiriman untuk saudari Reyna.”

“Oh ya, saya sendiri.”

“Kami sangat memohon maaf atas keterlambatan tersampaikannya kiriman ini. Sebab, terselip di bawah meja pengecekkan.”

“Ya, tidak apa-apa.”

Kiriman sebuah surat.

“Untuk Reyna, sahabatku.

Apa kabar? Sungguh aku minta maaf jika selama ini aku tidak bisa menghubungimu. Aku merindukanmu, tapi aku tidak bisa melakukan apapun selain aku mengadu pada bintang, rembulan, malam, dan segala isi semesta ini. Aku tidak menghamba pada mereka, Tuhan pasti mengerti.

Surat terakhirmu, aku telah menerimanya. Paman yang membacakan suratmu.

Rey, aku menangis mendengar isi suratmu. Sungguh, aku tidak sekalipun membencimu. Dulu atau hingga saat ini kita tetaplah sahabat. Meski akhirnya, sebelum aku pergi kau membenciku karena aku melempar bara api saat permainan, dan akhirnya mengenai matamu. Aku kira itu tidak parah. Ternyata, dugaanku salah. Aku memang pergi saat itu juga. Jauh ke tempat yang aku sendiri tidak mengenali tempat itu.

Tapi aku kembali, Rey…

Aku kembali saat aku mendapat kabar bahwa kau terancam buta karena ulahku. Aku kembali untuk mendonorkan kedua mataku. Agar akhirnya, kau bisa melihat rembulan kembali. Kau menulis puisi dengan nyata. Melihat apa yang kau tulis dengan kedua matamu yang bisa melihat dengan jelas.

Ya, Rey.. aku sekarang buta. Tetapi, percayalah padaku, semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu. Inilah perjalanan takdir hidup kita yang harus dijalani dengan baik. Mungkin, akulah yang harus meminta maaf karena membuat keluargamu sempat menangis dan merasa putus asa melihat keadaanmu saat itu. Maaf. Sungguh, Rey. Maafkan aku.

Dan aku tidak tahu kapan aku kembali untuk menemuimu. Bukan aku melarikan diri, Rey. Kelak, kau akan mengetahuinya sendiri.

Satu yang pasti, Rey. Sahabat tetaplah sahabat. Sahabat terbaik bisa jadi adalah ketika engkau mengenang segala hal tentang kita dan menerimanya dengan tulus.

 

Sahabatmu, Mentari.

Sebenarnya, hal itulah yang semakin membuat Reyna merindu lebih dalam. Kepergian Mentari membuatnya tak smpat untuk mengucapkan terima kasih. Bukan Mentari yang meminta maaf kepadanya, Reyna merasa bahwa dirinyalah yang seharusnya meminta maaf atas segala kemarahannya dan ucapan yang barangkali kurang berkenan di hati Mentari. Tetapi, waktu tidak bisa terulang kembali. Masa lalu harus diterimanya.

Sinar matahari semakin menyengat kulit. Panas sekali. Reyna tidak berpikir lama. Ia lihat alamat pengiriman paket yang baru saja ia dapat dari pengantar pos. Menyiapkan segala macam keperluan dan berpamita kepada ibunya yang sedang beres-beres di dapur. Tidak banyak yang ia bawa, hanya beberapa pasang pakaian, uang saku, alat mandi, dan alat sholat seadanya. Setelah makan siang, Reyna berpamitan kepada ibunya.

Satu jam berlalu, Reyna baru turun dari angkot yang berhenti di sebuah terminal kota. Perjalanan masih jauh. Akses dari desa ke kota tidak terlalu bagus, tapi patut disyukuri perjalanan masih bisa dilalui dengan selamat. Reyna menunggu bus tujuan Yogyakarta. Perjalanan masih sejauh ratusan kilometer. Berjam-jam lagi ia harus sabar menunggu pertemuan. Ya, kalau bertemu Mentari. Kalau tidak? Tetapi Reyna berusaha menepis segala pikiran buruk. Ia yakin akan segera bertemu dengan Mentari. Seolah perkiraannya tidak akan meleset.

Di rumah, ibunda Reyna sangat khawatir. Karena hari itulah pertama kalinya Reyna pergi seorang diri untuk perjalanan yang sangat jauh dan tempat yang pertama kali ia datangi. Pastilah ada kebingungan yang Reyna rasakan. Ibunda hanya bisa berdoa agar anaknya selamat sampai tujuan. Sementara Reyna terus melihat kea rah jendela. Matanya mulai ngantuk. Siang hari pukul 14.00 waktu yang enak untuk tidur. Tetapi hatinya menolak. Setiap kali terkantuk-kantuk, ia akan segera bangun dan duduk tegap. Memaksakan diir untuk terus terjaga.

Seseorang di damping Reyna adalah seorang laki-laki usia 40-an. Guratan wajahnya terlihat ramah dan memiliki jiwa penyayang. Mleihat Reyna yang terlihat sedikit gelisah membuatnya berkeinginan untuk bertanya, “Maaf, kalau boleh aku bertanya, mengapa kau terlihat gelisah dan sendu seperti itu?”

Reyna sedikit terkejut. Laki-laki disampingnya tersenyum ramah. Wajahnya meneduhkan.

“Oh—e, anu…”

“Hm?”

“Aku ingin bertemu sahabatku. Sudah dua tahun kami tidak bertemu.”

“Berkomunikasi?”

“Tidak selama kami berpisah dulu. Terakhir kali, adalah tadi siang saat suratnya sampai ke tanganku. Padahal, surat itu ia kirimkan sebulan yang lalu. Tapi, karena surat itu terselip di bawah meja petugas, jadi baru sampai ke tanganku tadi siang. Ah—itu bukan masalah, Pak. Memang takdirnya seperti itu.”

Laki-laki tersebut mengangguk paham. Berusaha empati. Ia berusaha memahami bahwa dinatara Reyna dan sahabatnya memiliki sesuatu yang tak biasa. Sebuah cerita yang menyadarkan suatu hal.

“Malam itu, aku melihat rembulan begitu redup—“ Laki-laki tersebut mulai bercerita. Setelah beberapa jam perjalanan. Reyna mendengarkannya dengan tenang. Berusaha menerka.

“Istriku telah meninggal dunia. Tidak lama setelah anakku sakit. Maka, perjuangan berat dimulai saat itu. Anakku harus mendapatkan penanganan secepat mungkin. Ginjalnya rusak. Sementara keinginannya untuk menemaniku begitu kuat. Ia sangat paham bahwa aku kesepian karena istriku telah meninggal. Tapi, aku memaksanya untuk berisitirahat. Karena ia tidak boleh terlalu banyak aktivitas. Semakin sakit tubuhnya semakin membuatku perih. Hingga akhirnya, seseorang membuatnya kembali normal. Mendonorkan ginjalnya. Mmebuatnya bahagia. Sehat seperti dulu. Tapi, pendonor itu kini sakit-sakitan. Aku sangat mengenang jasanya. Harusnya aku berbalas budi. Tapi, ia tidak pernah meminta apapun. Melihatnya senang bermain dengan anak-anak. Akhrinya, aku mengajaknya ke tenda darurat. Tempat anak-anak pemulung dan terbuang belajar. Mereka diurus dan dididik disana. Seadanya. Lalu, setelah beberapa kali ke sana, pendonor itu akhirnya memintaku untuk membangunkan sebuah sekolah dan tempat tinggal untuk mereka. Semuanya, pendonor itu yang mengurus. Ia yang mengajar dan mengatur segala keperluan. Aku kirimkan beberapa orang untuk membantunya di sekolah dan panti. Sekarang, pendonor itu sangat bersemnagat dan bahagia. Mungkin sebahagia aku mengenalnya.”

Reyna menangguk pelan. Kisah emmilukan namun bermakna kebahagiaan untuk hati yang suci. Nurani manusia cenderung kepada kebahagiaan dan kebaikan. Laki-laki di samping Reyna menyeka sudut matanya. Terisak.

Tak terasa, hari sudah malam. Bus yang Reyna tumpangi tidak memiliki gorden. Ia melihat ke jendela tanpa bosan. Setelah berulang kali mengulas cerita yang ia dengar dari laki-laki di sampingnya, Reyna memutuskan untuk membuka mulut. Mengungkapkan kegelisahan hatinya.

“Aku kembali melihat rembulan. Benda angkasa yang menjadi temanku berdialog tentang rindu. Aku dan rembulan seperti dua orang sahabat yang terpisah oleh jarang, namun masih dapat selalu bersua. Bercerita tentang perjalanan dan isi hati. Sekitar dua tahun lalu, kebencian melandaku terhadap sahabat terbaikku sendiri. Setelah terjadi kecelakaan kecil yang merusak mataku. Tetapi, aku tidak menyangka dia kembali untuk menebus kesalahannya. Mendonorkan kedua mataya untukku. Agar aku bisa melihat rembulan sperti sekarang, menulis puisi, dan segala hal yang bisa kulakukan dengan melihatnya secara nyata. Aku sangat berterima kasih. Sungguh, perjalanan ini adalah untuknya. Aku merindukan sahabatku itu. Aku ingin membawanya pulang ke kampung halaman. Bermain seperti dulu. Aku khawatir, penyebab dia pergi adalah karena rasa bersalahanya kepadaku atau karena kemarahanku kepadanya. Aku kehilangan sahabat terbaikku.”

Reyna menangis. Seirama dengan mulai hujan yang turun. Rintikkannya mngalir di kaca jendela. Membuat suasana menjadi berbeda. Seolah alam menyatu dengan kesedihan di hatinya. Berbalut duka. Menyampaikan pertanda pada semesta bahwa ada seorang manusia yang terluka, berdua, dan kehilangan.

“Kau ada saudara di Yogyakarta?”

“Tidak ada.”

“Tapi, Nak. Kau akan sampai di sana saat larut malam. Kau akan tidur dimana?”

“Entah. Mungkin aku bisa tidur di emperan masjid atau toko. Mungkin….”

“Baiklah, jika kau percaya padaku, kau boleh ikut aku. Disana ada anakku, dia sangat ramah. Kau akan menjadi teman barunya.”

“Terima kasih.”

Sesampainya di rumah. Reyna di sambut oleh seorang gadis lucu seusianya.

“Ayahhhh…..”

Mereka berpelukan. Reyna tersenyum. Laki-laki tersebut memperkenalkannya kepada anaknya yang dalam rangkulannya.

“Naima..”

“Reyna..”

Mereka berdua bersalaman. Naima diperintahkan Ayahnya untuk mengajak Reyna ke kamar. Menyuruhnya beristirahat. Naima cepat emnangguk. Semangat menggandeng tangan Reyna. Asyik! Naima mendapat teman baru.

Reyna masuk ke kamarnya. Naima sibuk menjelaskan segala hal ini dan itu. Reyna mengangguk paham sambil tersenyum. Ia sangat beryukur bertemu dengan teman seperti Naima. Ramah, cerdas, lincah, dan sangat sopan.

“Oh ya Reyna, lima belas menit lagi aku tunggu di ruang makan ya. Kita makan bersama. Di lantai satu. Oke?”

“Ya, Naima.”

Akhirnya, lima belas menit berlalu. Reyna segera turun. Di sapa oleh Ayah Naima dan anaknya. Duduk berdampingan dengan Naima. Suasananya begitu berbeda.

“Naima, buah-buahannya kau tinggalkan begitu saja. Tolong bawakan ke meja makan!”

Naima bergegas ke dapur dan mengambil buah-buahan yang telah dipotong dadu. Reyna melihat Naima hingga tenggelam di balik pintu.

Reyna seperti pernah mendengar suara wanita yang ada di dapur. Suara itu tidak asing lagi. Mat Reyna tidak lepas menghadap kea rah dapur. Ia berharap wanita itu muncul.

Benar, Reyna mengenalnya.

“Mentari!!”

Reyna bergegas memeluk Mnetari yang sedang baru saja melepas celemek. Mentari sontak terkejut. Berhamburlah keduanya dan saling berpelukan.

“Reyna…. Akhirnya kita bertemu..”

“Kau jahat, Tari. Kau tidak mengabarkanku kalau kau disini.”

Mentari menjelaskan sesuai dengan apa yang elah dijelaskan oleh laki-laki ramah di mobil bus itu, yang sekarang ada di ruang makan.

“Kalian sudah saling kenal? Jadi, pendonor yang kau ceritakan adalah Mentari, Reyna?”

“Benar, Pak. Dia adalah sahabat terbaikku.”

“Dia juga sahabat terbaik anakku, Rey. Aku senang kalian bertemu kembali. Rey, dialog rindumu telah utuh kembali. Rembulan itu hadir di hadapanmu saat ini.”

Reyna menangguk.

Setelah makan malam, Mentari mengajak Reyna dan Mnetari ke halaman rumah. Berbaring di taman rumput. Bersama menatap langit. Menunjuk bintang-gemintang menjadikannya berpola sesuai imajinasi mereka. Tertawa.

“Aku dan rembulan adalah dialog rindu. Entah mengapa, rembulan seolah setia mendengar segala rintihanku dan desah kerinduanku padamu, Tari. Selalu ada kata rembulan setiap malam-malamku. Karena dialah yang kuanggap temanku. Bisa jadi, ratusan hari yang telah kita lewati, kita berdua menatap rembulan di saat yang sama. Pada saat kita merindukan seseorang yang berarti dalam hidup. Seperti dirimu, Tari.”

Mentari menggenggam tangan Reyna, menangis.

“Maafkan aku, Rey. Aku takut jika aku kembali, masa lalu yang dulu terkenang kembali. Kau masih membenciku. Aku merasa bersalah, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tetap disini. Bersama keluarga baruku.”

“Pulanglah… Pulang bersamaku. Semuanya sudah berlalu. Kita sambut perjalanan baru.”

“Terima kasih, aku ingin tetap di sini. Mengertilah. Kota ini telah membuatku merasa semain hidup. Akan lebih indah jika kita kembali berdialog bersama rembulan. Bedanya, sekarang, kita bisa saling bercerita lewat media apapun. Sahabat tetaplah sahabat. Tidak ada yang hilang dari hati. Kau, adalah kenangan yang tak akan terlupa, Rey.”

“Baiklah, aku mengerti. Kau benar, sejauh apapun kita pergi, sahabat sejati tidak akan terganti.”

Malam itu, sama seperti malam yang lalu. Dingin dan sepi. Tetapi, mala mini berbeda. Kegelisahan telah sirna dan kerinduan telah terobati. Pertemuan dalam bingkai persahabatan yang indah. Tidak ada kata janji dan pengkhianatan. Persahabatan yang indah selalu menerima dan setia.

Biodata Penulis

Rostika Hardianti, lahir di Indramayu, 8 April 1998. Saat ini, penulis sedang studi S1 di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Mengambil Program Studi Psikologi angkatan 2016. Penulis merupakan Ketua Komunitas INSPIRALOVA Chapter Yogyakarta, yang bergerak dalam bidang pengembangan literasi.

Penulis dapat dihubungi melalui email: chiauthorindonesia99@gmail.com, facebook: Rostika Hardianti, dan instagram: @rostika_hardianti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*